Mataram, 19 Maret 2026
Pembangunan tidak selalu dimulai dari program, melainkan dari keberanian melihat kenyataan secara jujur. Di Nusa Tenggara Barat, kenyataan itu hadir dalam dua wajah: kemajuan yang terus bergerak, dan persoalan yang belum sepenuhnya terselesaikan.
Pariwisata tumbuh, ekonomi bergerak, dan berbagai program pemerintah hadir menjangkau masyarakat. Namun di saat yang sama, masih terdapat desa yang berkembang lambat, kemiskinan ekstrem yang belum sepenuhnya terurai, produktivitas peternakan yang belum optimal, serta pelaku UMKM yang bertahan tanpa benar-benar naik kelas.
Di titik inilah kualitas pembangunan diuji—apakah sekadar berjalan, atau benar-benar menyelesaikan.
Pertemuan Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal, dengan Rektor Universitas Mataram, Sukardi, bersama para guru besar pada 17 Maret 2026 menjadi momentum penting. Bukan sekadar seremoni, tetapi penegasan bahwa persoalan kompleks tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan yang biasa.
Gubernur Iqbal merumuskan arah pembangunan dalam dua kata kunci: orkestrasi dan kolaborasi.
Orkestrasi adalah soal kepemimpinan—bagaimana arah ditentukan, prioritas disusun, dan sumber daya diselaraskan. Tanpa orkestrasi, program hanya menjadi serpihan yang berjalan sendiri tanpa dampak yang kuat.
Namun orkestrasi tidak akan berarti tanpa kolaborasi. Di sinilah perguruan tinggi menemukan peran strategisnya. Universitas Mataram tidak lagi hadir sebagai pelengkap, tetapi sebagai mitra utama yang menghadirkan pendekatan ilmiah dalam setiap kebijakan dan intervensi pembangunan.
Melalui program Profesor Berdampak dan KKN Berdampak, dunia akademik tidak lagi berada di pinggir kebijakan. Ia masuk ke dalamnya—bekerja bersama pemerintah dan masyarakat, memastikan setiap program berbasis data, riset, dan kebutuhan nyata.
Selama ini, tidak sedikit program pemberdayaan berjalan tanpa fondasi ilmiah yang kuat. Pendampingan dilakukan, tetapi tidak selalu berbasis data. Bantuan diberikan, tetapi tidak selalu sesuai dengan potensi lokal. Di sinilah pendekatan Profesor Berdampak menghadirkan perbedaan mendasar.
Para guru besar bekerja sesuai disiplin keilmuannya. Dalam sektor peternakan, misalnya, dikembangkan sistem pakan berbasis bahan lokal untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Dalam penguatan UMKM, pendampingan tidak berhenti pada pelatihan, tetapi masuk hingga proses produksi, standarisasi, dan strategi pemasaran.
Mahasiswa melalui KKN tematik menjadi jembatan antara konsep dan praktik, sekaligus memastikan keberlanjutan program di lapangan.
Kolaborasi ini juga membuka peluang optimalisasi fasilitas pemerintah daerah melalui Badan Riset dan Inovasi Daerah. Mesin-mesin produksi yang sebelumnya kurang termanfaatkan kini didorong menjadi alat produksi aktif yang memberi nilai tambah ekonomi.
Inilah bentuk nyata hilirisasi ilmu pengetahuan.
Program Desa Berdaya yang dijalankan Pemerintah Provinsi NTB mendapatkan fondasi baru melalui pendekatan ini. Setiap desa dipetakan berdasarkan karakter dan potensinya, sehingga intervensi tidak lagi seragam, tetapi presisi dan tepat sasaran.
Dalam konteks pengentasan kemiskinan ekstrem, pendekatan ini menjadi kunci. Bantuan tidak cukup diberikan, tetapi harus diubah menjadi kapasitas. Program tidak cukup berjalan, tetapi harus menghasilkan perubahan yang terukur.
Kerja sama antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi ini pada akhirnya membentuk sebuah sistem pembangunan yang utuh. Pemerintah berperan sebagai orkestrator, perguruan tinggi sebagai sumber ilmu dan inovasi, dan desa sebagai ruang implementasi.
Program Profesor Berdampak menjadi bukti bahwa pembangunan berbasis ilmu pengetahuan bukan sekadar konsep, tetapi dapat dijalankan secara nyata.
Lebih dari itu, kolaborasi ini menegaskan satu hal penting: bahwa ilmu menemukan maknanya ketika ia memberi manfaat.
Pembangunan yang berhasil bukan diukur dari banyaknya program yang dijalankan, tetapi dari seberapa dalam ia menyentuh kehidupan masyarakat.
Ketika ilmu benar-benar dihadirkan dalam kebijakan, pembangunan tidak lagi berjalan dalam gelap. Ia memiliki arah, memiliki ukuran, dan yang paling penting—memiliki dampak.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi Nusa Tenggara Barat, kolaborasi ini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
Karena hanya dengan ilmu yang bekerja dan kolaborasi yang kuat, kesejahteraan tidak lagi menjadi cita-cita yang jauh, tetapi proses yang sedang dibangun hari ini—dari desa, untuk masa depan.
