Lombok Tengah – Tradisi budaya Bau Nyale kembali digelar di sejumlah pantai selatan Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan sukses menyedot perhatian ribuan masyarakat serta wisatawan, baik lokal maupun luar daerah. Event tahunan ini menjadi salah satu agenda budaya unggulan NTB yang terus dijaga dan dilestarikan.
Bau Nyale merupakan tradisi menangkap cacing laut (nyale) yang dipercaya masyarakat Sasak sebagai jelmaan Putri Mandalika, simbol pengorbanan, persatuan, dan kearifan lokal. Puncak perayaan berlangsung di beberapa titik pantai, di antaranya Pantai Seger, Kuta Mandalika, dan Tanjung Aan, sejak dini hari.
Antusiasme masyarakat terlihat sejak malam sebelumnya. Warga dari berbagai daerah di Lombok bahkan luar NTB memadati kawasan pantai untuk mengikuti ritual adat, doa bersama, hingga menangkap nyale secara tradisional.
Selain ritual budaya, event Bau Nyale juga dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan seni dan budaya lokal, pameran UMKM, serta atraksi pariwisata yang menampilkan kekayaan tradisi Sasak. Hal ini menjadikan Bau Nyale tidak hanya sebagai tradisi, tetapi juga sarana promosi pariwisata dan penggerak ekonomi masyarakat.
Pemerintah daerah menilai Bau Nyale memiliki nilai strategis dalam memperkuat identitas budaya NTB sekaligus mendorong pertumbuhan sektor pariwisata. Kehadiran wisatawan selama event berlangsung memberikan dampak positif bagi pelaku usaha lokal, mulai dari pedagang kecil hingga sektor jasa pariwisata.
Masyarakat berharap event Bau Nyale ke depan terus dikemas lebih baik, tetap menjaga nilai adat dan lingkungan, serta mampu memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan tanpa menghilangkan makna filosofis dari tradisi tersebut.
Tradisi Bau Nyale menjadi bukti bahwa kearifan lokal NTB masih hidup dan relevan, serta mampu menjadi perekat sosial sekaligus daya tarik wisata budaya yang mendunia.
Penulis: hariadin
