Ketua Umum Asosiasi Pemuda Inspirator NTB, Haikal Firmansyah, mengimbau seluruh pemuda dan masyarakat untuk kembali menjaga moral, etika, serta marwah adat budaya Sasak di tengah semakin banyaknya fenomena sosial yang keluar dari nilai-nilai kearifan lokal.
Menurut Haikal, berbagai tradisi di Lombok—mulai dari nyongkolan, sorong serah, hingga kegiatan sosial budaya lainnya—sering kali mengalami penyimpangan karena sebagian pemuda terjebak pada gaya hidup sensasional. Banyak aktivitas budaya yang berubah menjadi ajang hiburan berlebihan, sehingga mengikis nilai sopan santun dan kehormatan yang selama ini menjadi identitas masyarakat NTB.
“Semua pihak, terutama pemuda, harus menjadi garda depan dalam menjaga moral dan nama baik NTB. Budaya Sasak adalah warisan yang mulia, bukan panggung untuk keseruan yang melampaui batas.” tegas Haikal.
Ia menambahkan bahwa tugas pemuda hari ini bukan hanya meramaikan acara adat, tetapi memahami filosofi dan pesan moral yang terkandung di dalamnya. Tanpa literasi budaya yang kuat, tradisi hanya akan menjadi seremonial kosong yang kehilangan ruhnya.
Haikal juga mengajak seluruh masyarakat, tokoh adat, dan pemerintah untuk bersama-sama menciptakan ruang edukasi budaya yang lebih terarah dan berkelanjutan.
“Marwah Sasak ada di tangan kita semua. Mari jaga perilaku, jaga etika, dan jaga kehormatan NTB agar tetap dikenal sebagai daerah yang religius, berbudaya, dan bermartabat.”
