LOMBOK TENGAH — Kekhawatiran akan memudarnya jati diri masyarakat Sasak kembali mencuat ke permukaan. Ketua Himmah NW Lombok Tengah, A. Zainuri, menyampaikan seruan penting agar generasi hari ini kembali memahami nilai luhur adat Sasak yang semakin terabaikan, terutama di tengah maraknya fenomena sosial yang kerap melenceng dari norma agama dan budaya.
Dalam pernyataannya, Zainuri menegaskan bahwa adat Sasak bukan sekadar tradisi, melainkan sistem nilai yang mengandung filosofi mendalam. Ia menyoroti dua simbol utama dalam pakaian adat Sasak—lewet putu dan sapuk—yang kini jarang dipahami maknanya, padahal memiliki kedalaman spiritual dan sosial yang tinggi.
---
Makna Lewet Putu: Simbol Tawadhu’ dan Kesadaran Asal Usul
Lewet putu, yakni ujung kain adat yang menjulur ke bawah, mengandung pesan penting bagi setiap laki-laki Sasak. Berdasarkan diskusinya bersama tokoh adat Mamik Kana dan Lalu Bayu Windia, Zainuri mengungkap dua makna utama dari simbol ini.
1. Mengajarkan Tawadhu'
Lewet putu mengingatkan agar manusia selalu merendah diri—baik dalam menuntut ilmu maupun saat berinteraksi dengan sesama. Sikap tawadhu’ ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah Luqman ayat 18 tentang larangan berjalan di muka bumi dengan kesombongan.
Umar bin Khattab juga mengingatkan:
“Siapa yang merendah diri, Allah akan mengangkat derajatnya.”
2. Mengingatkan Asal Usul Manusia
Posisi kain yang menjulur ke tanah menandakan bahwa manusia berasal dari tanah, kembali ke tanah, dan kelak dibangkitkan darinya, sebagaimana dijelaskan dalam Surah Thaha ayat 55.
Makna ini menjadi pengingat agar manusia tidak besar kepala, tidak sombong, dan tetap menyadari siapa dirinya.
Makna Sapuk: Identitas Laki-laki Sasak dan Simbol Tauhid
Sapuk atau ikat kepala Sasak juga memiliki filosofi mendalam. Simpulnya membentuk huruf Lam Alif (لا) yang melambangkan kalimat tauhid “Laa ilaha illallah”.
1. Menjaga Kesucian Pikiran
Lam Alif pada simpul sapuk dimaknai sebagai penjaga pikiran—bagian tertinggi yang menentukan arah perilaku manusia.
Jika kepala terjaga, maka perbuatan pun akan ikut terjaga.
2. Simbol Kemuliaan dan Identitas
Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa para malaikat juga memakai surban atau imamah—menunjukkan bahwa penutup kepala adalah simbol kehormatan. Di Lombok, sapuk menjadi identitas laki-laki Sasak dan bagian penting dalam kegiatan adat.
Zainuri menegaskan bahwa makna ini harus terus dijaga agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
Fenomena Sosial: Adat Mulai Dilanggar, Jati Diri Semakin Pudar
Zainuri mengungkap kekhawatirannya melihat banyaknya perilaku masyarakat hari ini—terutama di media sosial—yang dianggap tidak sesuai dengan nilai adat dan agama.
Ia menjelaskan bahwa adat adalah tingkatan tertinggi setelah budaya dan tradisi, karena telah menyatu dengan nilai-nilai Islam yang dianut masyarakat Sasak.
Karena itulah, ketika seseorang melanggar norma, orang Sasak biasa menegur dengan kata: “Ndkm naon adat”, bukan sekadar adab.
Tiga Pondasi Nyongkolan yang Sering Terabaikan
Zainuri mengingatkan bahwa dalam adat nyongkolan, terdapat tiga pilar penting yang harus dijaga:
Wirame – kecerdasan intelektual (IQ)
Wirage – kecerdasan spiritual (SQ)
Wirase – kecerdasan emosional (EQ)
Ketiganya menjadi penyeimbang agar prosesi adat tidak hanya berjalan meriah, tetapi juga sesuai nilai luhur Sasak.
Seruan Himmah NW Loteng: Mari Kembalikan Keagungan Adat Sasak
Menutup pernyataannya, Zainuri mengajak seluruh masyarakat untuk kembali mempelajari adat dan nilai filosofi leluhur Sasak.
“Mari sama-sama belajar dan memahami kembali makna adat kita. Adat Sasak sangat indah karena menyandingkan agama, budaya, dan tradisi dalam satu kesatuan yang harmonis,” ujarnya.
Menurutnya, kesadaran kolektif untuk menjaga adat dan identitas Sasak adalah benteng terakhir agar generasi Lombok tidak kehilangan jati diri di tengah perubahan zaman.
