Nusa Berita | Mataram — Gubernur Nusa Tenggara Barat, Lalu Muhamad Iqbal, resmi menerima gelar kehormatan Menggala Gumi Sasak dari Majelis Adat Sasak (MAS). Penganugerahan ini menjadi penegasan bahwa kepemimpinannya diterima sebagai pemimpin untuk seluruh golongan masyarakat NTB—baik Sasak, Samawa, maupun Mbojo.
Gelar Menggala Gumi Sasak merupakan salah satu kehormatan tinggi dalam tradisi masyarakat Sasak. Gelar ini diberikan kepada sosok yang dinilai mampu menjalankan nilai-nilai kepemimpinan yang kuat, mengayomi, serta mengutamakan kepentingan masyarakat luas.
Majelis Adat Sasak menilai Gubernur Iqbal mencerminkan tiga nilai utama kepemimpinan tradisi Sasak—Tindih, Maliq, dan Merang.
Nilai Tindih melambangkan integritas dalam memegang amanah, Maliq menggambarkan keteguhan pada aturan dan prinsip, sementara Merang mencerminkan kerendahan hati serta kedekatan dengan rakyat.
Ketua Majelis Adat Sasak menyampaikan bahwa gelar ini diberikan bukan hanya sebagai simbol budaya, tetapi sebagai wujud harapan agar Gubernur Iqbal mampu terus menjaga persatuan, merawat adat, serta memperjuangkan masa depan masyarakat NTB secara lebih inklusif dan berkeadilan.
Menerima gelar tersebut, Gubernur Iqbal menyampaikan rasa terima kasih dan menegaskan kembali komitmennya untuk mengemban amanah rakyat NTB. Dengan legitimasi kuat dari lebih dari 1,2 juta suara pada Pemilihan Gubernur lalu, ia menegaskan bahwa fokus kepemimpinannya adalah memerangi akar persoalan terbesar masyarakat NTB: kemiskinan.
“Gelar ini adalah doa, sekaligus pengingat agar saya tidak berhenti bekerja untuk semua masyarakat NTB. Tugas kita bersama adalah memastikan NTB makin bersatu, maju, dan sejahtera,” ujarnya.
Penganugerahan gelar Menggala Gumi Sasak ini diharapkan menjadi momentum semakin eratnya hubungan pemerintah daerah dengan para tokoh adat dan budaya. Selain itu, gelar ini juga menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak hanya berupa infrastruktur, tetapi juga penjagaan identitas, adat, dan warisan budaya masyarakat NTB.
Jika ingin ditambahkan kutipan dari tokoh adat, suasana acara, atau komentar masyarakat, saya bisa lengkapi.

