Opini Kabid Pemberdayaan Perempuan API Loteng
19 Maret 2026
Di pelosok Lombok, pemandangan perempuan yang berangkat ke sawah sejak fajar atau memanggul dagangan menuju pasar adalah hal yang lumrah. Sebagian menyebut fenomena ini sebagai bentuk kemajuan—simbol emansipasi perempuan yang kini turut berkontribusi dalam menopang ekonomi keluarga. Namun di balik itu, tersimpan realitas yang jarang dibicarakan secara jujur: beban ganda yang terus menghimpit perempuan di ruang domestik dan publik sekaligus.
Bagi banyak ibu di desa, “boleh bekerja” tidak serta-merta berarti berkurangnya tanggung jawab di rumah. Setelah seharian bekerja di bawah terik matahari, mereka kembali ke rumah bukan untuk beristirahat, melainkan melanjutkan pekerjaan domestik—memasak, mencuci, membersihkan rumah, hingga mengurus anak. Dalam kondisi ini, waktu istirahat menjadi kemewahan yang hampir tidak pernah mereka rasakan.
Kondisi ini semakin berat di wilayah dengan keterbatasan fasilitas. Akses air bersih yang sulit, tidak adanya peralatan rumah tangga modern, serta beban kerja manual membuat energi perempuan terkuras sejak pagi hingga malam. Ironisnya, di tengah kondisi tersebut, standar sosial di masyarakat masih menempatkan perempuan sebagai pihak utama yang bertanggung jawab atas urusan rumah tangga dan pengasuhan anak.
Ketika anak dianggap kurang terurus atau kondisi rumah tidak ideal, perempuanlah yang sering disalahkan. Sementara itu, peran laki-laki dalam pekerjaan domestik masih kerap dipandang sebagai “bantuan,” bukan sebagai tanggung jawab bersama. Inilah akar persoalan yang melahirkan apa yang disebut sebagai jebakan beban ganda.
Emansipasi yang terjadi selama ini cenderung dimaknai sebatas kebebasan perempuan untuk bekerja dan menghasilkan uang. Padahal, tanpa diiringi dengan pembagian peran yang adil di dalam rumah tangga, kondisi tersebut justru menempatkan perempuan pada posisi yang semakin berat. Mereka tidak benar-benar merdeka, melainkan memikul dua peran besar sekaligus tanpa dukungan yang setara.
Sudah saatnya cara pandang ini diubah. Emansipasi sejati bukan hanya tentang membuka ruang bagi perempuan di sektor ekonomi, tetapi juga tentang menghadirkan keadilan dalam pembagian peran di dalam keluarga. Suami dan istri perlu duduk bersama, membangun kesepahaman, dan berbagi tanggung jawab secara proporsional—baik di ruang publik maupun domestik.
Perempuan di pelosok Lombok bukanlah simbol ketangguhan tanpa batas. Mereka adalah manusia yang memiliki keterbatasan, yang juga membutuhkan dukungan, penghargaan, dan ruang untuk beristirahat. Mengagungkan ketangguhan tanpa menghadirkan solusi justru berpotensi melanggengkan ketidakadilan.
Karena pada akhirnya, kekuatan keluarga bukan dibangun dari satu pihak yang menanggung segalanya, melainkan dari kerja sama yang saling menguatkan. Emansipasi yang sejati adalah ketika perempuan tidak lagi berjalan sendirian, tetapi ditemani oleh sistem, budaya, dan pasangan yang adil dalam berbagi beban kehidupan.
