Mataram, 17 Maret 2026
Gubernur Nusa Tenggara Barat, Lalu Muhammad Iqbal, menegaskan pentingnya menghadirkan praktik toleransi yang nyata di tengah masyarakat, seiring berdekatannya perayaan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah dengan Hari Raya Nyepi umat Hindu.
Penegasan tersebut disampaikan dalam rapat bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) NTB dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Senin (16/3/2026). Dalam forum itu, pemerintah bersama para pemangku kepentingan menyepakati sejumlah langkah konkret sebagai upaya menjaga harmoni sosial di daerah.
Kesepakatan tersebut mencerminkan komitmen bersama antarumat beragama. Umat Hindu diminta untuk menghentikan sementara musik dalam parade ogoh-ogoh saat adzan berkumandang sebagai bentuk penghormatan terhadap umat Islam yang tengah menjalankan ibadah. Sebaliknya, umat Islam juga diimbau untuk tidak melintasi kawasan pemukiman umat Hindu saat berlangsungnya Catur Brata Penyepian.
Selain itu, pelaksanaan takbiran menjelang Idul Fitri juga menjadi perhatian. Masyarakat diimbau agar tidak menggunakan pengeras suara secara berlebihan, demi menjaga kenyamanan bersama di tengah situasi yang membutuhkan sensitivitas antarumat beragama.
“Kita ingin toleransi itu tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat,” ujar Gubernur yang akrab disapa Miq Iqbal tersebut.
Ia menegaskan bahwa kondisi keamanan dan kerukunan masyarakat di Nusa Tenggara Barat hingga saat ini tetap dalam keadaan kondusif. Namun demikian, langkah-langkah antisipatif tetap diperlukan untuk mencegah potensi gesekan yang dapat mengganggu stabilitas sosial.
Menurutnya, berdekatannya dua hari besar keagamaan ini justru menjadi momentum strategis untuk menunjukkan wajah NTB sebagai daerah yang menjunjung tinggi nilai toleransi dan kebersamaan.
“NTB sejak lama dikenal sebagai daerah yang menjunjung tinggi toleransi. Kita ingin memastikan bahwa momentum ini memperkuat kerukunan, bukan sebaliknya,” tegasnya.
Lebih lanjut, Gubernur menekankan bahwa menjaga ketertiban dan keharmonisan dalam pelaksanaan kegiatan keagamaan merupakan tanggung jawab bersama. Peran tokoh agama, tokoh masyarakat, aparat keamanan, serta pemerintah dinilai sangat penting dalam memastikan seluruh rangkaian perayaan berjalan aman dan tertib.
Dengan sinergi seluruh elemen tersebut, diharapkan masyarakat dapat menjalankan ibadah dengan khusyuk, sekaligus memperkuat nilai-nilai kebersamaan dalam keberagaman yang menjadi ciri khas Nusa Tenggara Barat.
Penulis: Hariadi
