
Mataram, NTB – 30 September 2025
Dengan kurang dari seminggu menuju pelaksanaan MotoGP Mandalika 2025, kondisi di lapangan menimbulkan kekhawatiran: penjualan tiket masih sangat rendah dan tingkat hunian hotel belum menyentuh angka maksimal. Para pelaku pariwisata dan travel agent mulai mempertanyakan apakah event internasional ini dipromosikan secara serius dan merata atau tidak?.
📉 Data Fakta
- Dari total 50.700 tiket yang dilepas oleh MGPA, melalui mitra resmi yaitu Astindo NTB, baru sekitar 16-17% yang terjual.
- Nilai transaksi paket resmi penjualan tiket dan paket wisata melalui Astindo baru mencapai sekitar Rp 600 juta, jauh di bawah realisasi tahun lalu pada periode yang sama sekitar Rp 6-7 miliar.
- Tingkat hunian hotel di wilayah penyangga MotoGP — seperti Mataram dan Lombok Barat — baru sekitar 70 persen, sementara beberapa hotel tingkat okupansinya masih rendah, antara 40-80 persen.
Ketua Astindo NTB, Sahlan M. Saleh, mengungkap bahwa salah satu penyebab utama rendahnya penjualan adalah terlambatnya waktu promosi dan pengelolaan hak distribusi tiket. Meskipun tiket mulai dijual sejak Februari 2025, pengelolaan paket penjualan resmi baru diserahkan ke Astindo pada bulan September, sehingga waktu yang tersedia untuk bundling paket wisata dan promosi menjadi sangat terbatas.
Sahlan juga menyebut promosi yang dilakukan selama ini tidak merata. Banyak upaya pemasaran yang masih terpusat di Jakarta, sementara di daerah-daerah dan kawasan wisata penunjang seperti Gili belum terasa dampaknya.
Ketua PHRI NTB, Ni Ketut Wolini, ikut menyuarakan bahwa promosi dan strategi pemasaran harus diperluas ke destinasi-destinasi wisata terpencil tapi memiliki potensi tinggi, misalnya Tiga Gili.
Jika tren ini tidak dibalik, akan ada beberapa konsekuensi negatif:
- Kerugian ekonomi lokal: hotel, restoran, pengusaha UMKM mungkin tidak akan merasakan lonjakan penghasilan seperti pada event MotoGP sebelumnya.
- Citra NTB dalam penyelenggaraan event internasional akan dipertanyakan: jika tiket tidak laku dan promosi lemah, kepercayaan investor hingga wisatawan bisa tergerus.
- Kerja keras dan investasi yang telah dilakukan dalam menyiapkan infrastruktur dan fasilitas menyambut MotoGP bisa jadi tidak termanfaatkan secara maksimal.
Organisasi kepemudaan seperti Asosiasi Pemuda Inspirator NTB dan para pemangku kepentingan lainnya punya posisi strategis untuk mendesak pemerintah provinsi, MGPA, ITDC, dan mitra lainnya agar:
- Mengintensifkan promosi nasional & internasional — tidak hanya di Jakarta, tapi di semua daerah dan destinasi wisata penunjang.
- Memperbanyak bundling paket wisata + tiket agar lebih menarik dan memudahkan wisatawan.
- Sediakan diskon atau akses istimewa bagi masyarakat lokal dan komunitas yang mendukung pelaksanaan event.
- Perbaiki komunikasi publik agar informasi soal tiket, harga, fasilitas, dan transportasi tersampaikan dengan jelas dan lebih awal.
MotoGP Mandalika 2025 punya potensi luar biasa untuk mengangkat pariwisata dan ekonomi lokal NTB. Namun jika promosi masih lemah dan penjualan tiket rendah, potensi itu bisa terlewatkan. Event sebesar ini butuh upaya bersama — bukan hanya fasilitas dan infrastruktur, tetapi juga pemasaran, komunikasi, dan sinergi stakeholder agar semangat “NTB Makmur Mendunia” benar-benar dirasakan oleh seluruh rakyat, bukan hanya seremoni.